Cerpen – Titik

Bunyi lalu lalang kendaraan mulai samar terdengar. Kicau burung dari atas pohon ceri di depan kamarku menimpali. Kubuka sedikit jendela kamar agar sinar matahari dapat masuk melalui celah-celahnya. Semilir udara pagi hari pun mengikuti jejak itu. Kutarik nafas dalam-dalam secara perlahan dan kurasakan udara segar mengalir dalam tubuhku. Tak terasa sudah jam enam pagi.

Baca lebih lanjut

Iklan

Mengejar Bintang ke-Lima

Jejak yang terlalu jauh tak pernah terlalu jauh

Tubuh ini masih terlalu tegap untuk rubuh
Umur ini masih terlalu muda untuk lelah
Dan Ego ini masih terlalu angkuh untuk Patah
Demi bintang yang mengajakku pergi melihat langit dan kemudian ntah pergi bersama angin dalam hujan

Aku datangi titik titik maha tinggi untukku cari kamu
Kususuri jejak cakrawala panutan pengembara yg tersesat
Untuk menemuimu
atau sekedar bercerita pada langit tentang ketiadaanmu
demi bintang yang mengajakku pergi melihat langit dan kemudian ntah pergi bersama angin dalam hujan

Kau pergi tanpa pamit, seraya berteriak “enyahlah!”
Entahlah, bahasa kita tak sama bingung ku tak berdaya
Mari bahas bahasa bukan pergi lalu sirna
Demi bintang yang mengajakku pergi melihat langit dan kemudian ntah pergi bersama angin dalam hujan

…..Di tengah hutan, Bontang, Kalimantan
Akhir Juni 2016

Merdeka? Entahlah

Sudah merdeka atau belum, belum pula aku bisa jawab, terlalu salah dibilang belum dan malu pun dibilang sudah. Negara ini sudah merdeka sejak beberapa puluh tahun lalu, di atas banjir darah dan gelimpang jenazah jenazah para pendahulu yang dalam beratus ratus tahun jadi budak penguasa kolonial. Sampai pada akhirnya diakui masyarakat internasional sebagai merdeka, berdaulat atas diri sndiri. Tapi kenyataan bilang bahwa kita pun sama seperti dulu. Apalah beda budak kini dan dulu, hanya saja lebih bergaya, budak kini jauh lebih perlente, perbudakan yang lebih besar daripada diperbudak suatu bangsa seperti dahulu kita diperbudak belanda atau jepang. Kita, aku dan kamu terlalu sering bohong demi menyenangkan diri, melawan kenyataan pahit, bahwa kita sudah bebas merdeka padahal masih pusing bayar pajak atau sekedar untuk makan lusa. Merdeka, negri ini sudah! Kita, masyarakatnya? Kurasa belum. Renunganku sndiri, jangan diambil pusing, kalau kamu pusing, berarti kita sama.

03.00

Tiada bincang seindah

malam yang sepertiga

Kala terjaga

atau terbangun paksa

 

Tiada retorika

Semua keluar sesuka hati

Menggebu-gebu

Penuh makna

 

Bertelanjang pikiran kita

Berdialog tanpa jeda

Tanpa basa-basi bisa

Dusta berselaput indah

 

Seakan sempurna saat hujan turun

Dua gelas kopi hitam robusta

ia perindah pahit getir realita

Saat mana manusia memanusia, seutuhnya.

 

Aku pun suka senja

Tapi pagi-pagi buta

Bincang kita lebih membahana

Ketiadaan Ambisi

Hidup begitu indah ketika seseorang dapat mensyukuri apa-apa saja yang telah Tuhan berikan padanya. Kesehatan, orang-orang terdekat, harta, bahkan ujian. Dan ketika kita bersyukur, tak ada lagi beban dalam melewati hari, gelisah jarang datang dan senyum pun senantiasa terpampang. Hidup seakan sempurna. Ketika masalah datang pun senyum itu masih betah, betah menghias wajah walau hati sebenarnya muram.

Jadi, kenapa aku bahas tentang hal ini? apakah bersyukur itu tidak baik?

Tidak, bersyukur tidak pernah salah, aku saja yang memperlakukannya tidak benar, aku mengatasnamakan syukur untuk banyak hal. Salah satunya adalah aku mempergunakan syukur sebagai alasan aku tak bergiat keras melakukan sesuatu. Ambisiku hilang mengingat apa yang ada telah cukup. Aku membuat seakan-akan bersyukur adalah alasan kemerosotan dan ketakberdayaanku. Aku mengartikan bahwa bersyukur adalah menerima segala yang ada mengalir tanpa berusaha lebih menyelesaikan atau mewujudkannya. Hal ini membuatku tak berambisi. Bahwa berambisi adalah kurang bersyukur. Bahwa berambisi adalah serakah dan tidak pernah cukup. Padahal, ambisi pula yang membuat kita tetap hidup. Ambisi pun baik dalam batasan-batasan tertentu. Yang belum aku pahami waktu lalu bahwa keegoisanku akan syukur membuatku melupakan orang-orang yang mengasihiku yang mana mereka ingin melihatku berambisi untuk “be the best version of myself”. Maafkan aku, syukur. Karna ku t’lah artikanmu sesuka hati.

Don’t you cry for the lost
Smile for the living
Get what you need and give what you’re given
Life’s for the living so live it
Or you’re better off dead
-Life’s for the living by Passenger

Hanya pendapat sendiri, renungan diri sendiri, kalau kau begitu, berarti kita sama.

The Amazing Summit of West Java, Mt. Ciremai

Keinginanku semakin menggebu-gebu ketika seorang teman perempuan yang mengajakku ke gunung ciremai mengupload foto dirinya sedang berpose di Puncak Ciremai. Megah sekali. Ya, aku tidak bisa ikut dengannya dikarenakan suatu hal dan itu merupakan salah satu penyesalan terbesar yang kualami di minggu tersebut. Hari-hari berikutnya kubuka lagi agenda perjalanan menuju Ciremai, aku tidak ingin penyesalan itu berlarut-larut. Kemudian aku ajaklah partner mendaki andalanku, yang menjadi alasan gagalnya keberangkatan pertama dikarenakan sedang ujian akhir semester, Albar. Ia mengiyakannya, walau dengan kondisi keuangan yang sedang kritis-kritisnya -mengingat saat itu sedang tanggal tua bagi kami mahasiswa-.

Baca lebih lanjut

The Call of the Wild by Jack London

The Call of the WildThe Call of the Wild by Jack London

My rating: 5 of 5 stars

Suatu kisah cinta yang dalam antara anjing dan manusia, Loyalitas, bertahan hidup, semangat untuk bertahan hidup, petualangan, dan persahabatan. Diceritakan pake sudut pandang seekor anjing namanya Buck, yang berubah dari anjing piaraan rumah jd pemburu yg handal.

Baca buku ini lagi setelah lama gak baca, kali ini baca versi bahasa indo baru dapat nemu di pasar online biasanya baca di ebook gratisan wkwkwk, ada sedikit terjemahan yang kurang pas, juga ada puisi yang dihilangkan tapi overall masih mirip dengan versi aslinya.

View all my reviews

Tanya dan tanya. O, solitude!

Dua tahun telah berlalu sejak pertanyaan ini muncul pertama kali ke permukaan hati. Tiap malam semenjak saat itu, kucoba-coba menjawabnya, dan selalu saja nihil. Ada beberapa jawaban yang sudah kukantongi, yang rasanya sampai saat inipun belum benar-benar benar. Apakah sebenarnya yang terjadi? Muncul tanya dalam tanya yang membuatku semakin bertanya-tanya. Bingung tak terarah, dan aku pun mencoba lagi meluruskan arah. Apa ini? Hal ini sangat mengganggu, menyebalkan dan membingungkan. Apa ini? Ku telah daki gunung, datangi laut, seberangi sungai, dan gapai langit semata-mata untuk mendapat bantuannya menjawab ini, tapi tetap saja keraguan menang telak.

Aku lelah, tekadang marah, pertanyaan ini menggerogoti relung jiwa merusak tubuhku dari dalam. Jiwaku seolah kalah dalam pertempuran. Pikiranku kini berjuang sendirian, mencari-cari jawaban yang sedang bersembunyi di ntah berantah. Akhirnya di penghujung hari, aku mulai berdamai dengannya, dengan jiwaku, yang melahirkan tanya dalam tanya penuh resah, yang di saat tertentu tetap datang tanpa apa.